Kamis, 01 Oktober 2009

malam

Menyatukan segala indra untuk memahami segala yang telah terjadi
Tersadar, sudah lama aku tak menyebut-Mu
Entah apa yang kulalui
Terpesonakah aku pada ciptaan-Mu?
Ingin rasanya aku berkata, masih seperti dulu
Saat Kau menjadi teman bicaraku
Saat aku cemburu pada hamba-hamba-Mu
yang tampak begitu menyatu ketika mengadu pada-Mu
Aku rindu...
pada segala keintiman yang tak terlukiskan
pada malam-malam dimana Kau menelan segala keresahan
Saat hijab terasingkan
Saat Kau menjadi satu-satunya tujuan
Masih adakah sejengkal ruang?

Agama

Dari sekian klasifikasi, santri-abangan hingga fundamentalis-liberal, saya tak berhasil memposisikan diri. Pun jika dikaji dengan pendekatan ormas seperti NU, Muhammadiyah maupun Persis. Kalaupun ada kata yang cukup mencerminkan warna keberagamaan saya, saya memilih moderat dengan segala penafsiran dan pengertiannya. Kadang saya memposisikan sebagai seorang naturalis, namun disaat lain saya menutup segala pikiran saya dan melakukan kegiatan yang acap disebut dogmatis.

Entahlah, kadang saya suka bingung. Antara universalitas, logika, hingga keterbatasan manusia. Apa yang disebut dengan kebenaran? Apakah manusia memiliki hak untuk menyatakan sesuatu itu benar atau salah? Jawaban atas pertanyaan terakhir bagi saya adalah tidak. Tapi entah kenapa, belakangan ini kian banyak orang yang mengklaim kebenaran. Bukankah mengambil hak prerogatif Allah sama saja dengan syirik? Lalu kenapa masih ada yang suka sombong dengan keberimanannya, mengaku paling benar dan mengklaim yang lain salah?

Disisi lain, kalau setiap orang tenggelam dalam kebenarannya masing-masing, bagaimana keyakinan itu dapat diperoleh? Apa yang menyebabkan seseorang yakin, dan kemudian memanifestasikan keyakinannya itu dalam bentuk tindakan? Seperti perintah untuk berperang yang turun melalui tiga tahap, bagaimana dengan kondisi saat ini, saat banyak negara yang berkobar atas nama Tuhan. Bukankah kecendrungan manusia adalah pada perdamaian?

Lalu kalau semua agama cenderung pada perdamaian--sebagaimana yang didoktrinkan dalam buku PPKn masa SMA dimana terdapat kutipan-kutipan dari berbagai kitab yang menyebutkan benang merah semua agama adalah kebaikan dan cinta damai—mengapa peperangan menjadi bagian dari sejarah manusia? Terus menerus tanpa henti, hanya berganti rupa. Lewat bom atom yang bisa digerakkan dari jarak ribuan kilometer, atau perang terselubung berupa pemikiran.

Kenapa semuanya senang pada konflik? Meski ada teori yang menyebutkan manusia tak pernah bisa mengenyahkan insting hewani sepenuhnya. Kalaupun dalam tampilan luar terlihat wajar, ia membutuhkan pelampiasan. Hal inilah yang mengakibatkan game-game perang-perangan maupun duel menjadi game paling laku sepanjang massa. Demikian pula dengan adu tinju, gulat, maupun wrestling di TV. Taruhan yang memnyertai pertandingan itu, jeritan-jeritan penuh semangat seolah merayakan sisi hewaniah manusia yang tak berhasil dijinakkan.

Apakah agama itu? Ditilik dari a yang berarti tidak dan gama yang berarti kacau, seharusnya agama merupakan petunjuk jalan yang menghantarkan manusia pada keteraturan. Tapi keteraturan macam apa, hukum-hukum yang bagaimana? Dan kenapa selalu atas nama agama? Apakah hanya kedok budaya dengan tabu-nya(pake pendekatan psikologis), atau ketika seseorang telah memutuskan beragama, maka ia telah menyatukan jiwa dan raganya kepada keyakinannya itu?

Lalu kenapa masih ada korupsi, pencurian, ketimpangan, dan segala tetek bengek lainnya? Apakah semua hal itu tak ada kaitannya dengan gaya hidup? Apakah agama hanya mengurusi masalah-masalah besar seperti perdamaian di muka bumi, isu terorisme hingga memicu diadakannya dialog interfaith yang kedua? Semuanya tampak non sense. Saat membicarakan masalah-masalah besar, semua orang tampak peduli dan alim-alim, tapi begitu dihadapkan dengan kehidupan sehari-hari tak tampak jejak agama. Agama lenyap dengan segala kemegahannya. Timpang, tak utuh, cacat.

Apa yang salah? Semua pemeluk agama pasti akan membela agamanya mati-matian, hingga titik darah penghabisan kalau perlu. Agama menjadi sumber kebenaran dan juga sumber harapan. Karena itu pula psikologi materialisme menuduh agama hanyalah bentuk pelarian manusia akan sosok ‘ayah-ibu.’ Atau mengutip kata-kata Marx yang terkenal: agama adalah candu. Meski kalau melihat dari kacamata Jung(yang terdistorsi lagi oleh kacamata yang saya gunakan), agama merupakan kebutuhan dasar manusia. Jadi ‘aku’ dalam diri tiap manusia pada dasarnya bisa membantu alam sadar manusia untuk mengenali eksistensinya(lagi baca buku Zen & Psikoanalisis, tapi logikanya masih belepotan didalam kepala).

Dengan begitu agama yang kalau diartikan secara umum merupakan keyakinan seseorang yang berasal dari kitab suci(dalam pelajaran-pelajaran zaman baheula, agama dibedakan dengan kepercayaan, yang sumbernya tidak berasal dari kitab suci) merupakan jalan hidup, way of life seseorang. Didalamnya terdapat masalah-masalah profan, transenden, hingga yang skala mikro. Hua..ah alur berpikirnya kacau banget.

Agama mengantarkan seseorang pada keselamatan(p => q)
Seseorang tidak selamat (~q)
Kesimpulannya: tidak beragama(~p)
(ket: p => q ekivalen dengan ~q => ~p)

Nah, kalau sekarang kondisi yang kita hadapi kacau balau, kemungkinannya ada dua. Saya sebagai pengamat yang bermaksud objektif tapi ngga mungkin(saya kontra dengan pemisahan objektivitas dan afek versi Descartes), yang salah dalam memberikan penilaian(saya melihatnya sebagai kekacauan, padahal kondisi sebenarnya baik-baik saja) atau kondisi sekarang adalah kondisi tidak beragama(meski kadarnya mungkin bisa berbeda-beda bagi tiap orang)?

Saya cenderung pada pilihan kedua. Tapi lagi-lagi pilihan saya ini dipengaruhi asumsi awal bahwa kondisi yang saya lihat adalah benar. Sama ketika teman saya marah-marah pada diskusi dengan sebuah golongan. “Masa Yut, mereka bilang kaya gini: Semua manusia pasti pernah berbuat salah, Nabi adalah seorang manusia, kesimpulannya: Nabi pasti pernah berbuat salah.” Terlepas dari perdebatan yang panjang lebar mengenai kema’suman seorang Nabi, premis diatas juga tak lepas dari asumsi dasar: semua manusia pasti pernah berbuat salah. Padahal pernyataan itu harus dibuktikan terlebih dahulu dengan cara mengambil manusia sebarang, kemudian menggunakan metode induksi. Tentu saja hal itu sangat rumit. Sebaliknya untuk membuktikan pernyataan tersebut salah cukup mengambil satu contoh penyangkal. Membuktikan suatu pernyataan benar jauh lebih sulit dibandingkan membuktikannya salah. (Udah, ah, keterangan lebih lanjut mending ikut kuliah anril aja).

Intinya, manusia itu sebenarnya subjektif(huehehe... jadi ngikutin Wittgenstein dan Kiekergard deh), jadi untuk bertahan di dunia yang fana ini kita harus menemukan eksistensi dalam diri masing-masing. Seperti peran analisis dalam psikoanalisis dan master dalam Zen, manusia harus berhasil mendamaikan alam bawah sadarnya dengan sadar, atau dalam bahasa Zen menembus batasan ‘aku’ dalam dirinya, jalan dari perbudakan menuju pembebasan diri. Kalau psikoanalisis melakukannya dengan sosok analisis, maka Zen menggunakan metode meditasi, koan dll. Saya lebih cenderung pada cara Zen, yang sejalan dengan apa yang saya yakini. Agama yang dalam hal ini didefinisikan bersumber pada sebuah kitab, merupakan petunjuk jalan bagi manusia untuk menemukan eksistensi dirinya sebagai seorang abd’ dan menuju Yang Esa.
Dari sekian klasifikasi, santri-abangan hingga fundamentalis-liberal, saya tak berhasil memposisikan diri. Pun jika dikaji dengan pendekatan ormas seperti NU, Muhammadiyah maupun Persis. Kalaupun ada kata yang cukup mencerminkan warna keberagamaan saya, saya memilih moderat dengan segala penafsiran dan pengertiannya. Kadang saya memposisikan sebagai seorang naturalis, namun disaat lain saya menutup segala pikiran saya dan melakukan kegiatan yang acap disebut dogmatis.

Entahlah, kadang saya suka bingung. Antara universalitas, logika, hingga keterbatasan manusia. Apa yang disebut dengan kebenaran? Apakah manusia memiliki hak untuk menyatakan sesuatu itu benar atau salah? Jawaban atas pertanyaan terakhir bagi saya adalah tidak. Tapi entah kenapa, belakangan ini kian banyak orang yang mengklaim kebenaran. Bukankah mengambil hak prerogatif Allah sama saja dengan syirik? Lalu kenapa masih ada yang suka sombong dengan keberimanannya, mengaku paling benar dan mengklaim yang lain salah?

Disisi lain, kalau setiap orang tenggelam dalam kebenarannya masing-masing, bagaimana keyakinan itu dapat diperoleh? Apa yang menyebabkan seseorang yakin, dan kemudian memanifestasikan keyakinannya itu dalam bentuk tindakan? Seperti perintah untuk berperang yang turun melalui tiga tahap, bagaimana dengan kondisi saat ini, saat banyak negara yang berkobar atas nama Tuhan. Bukankah kecendrungan manusia adalah pada perdamaian?

Lalu kalau semua agama cenderung pada perdamaian--sebagaimana yang didoktrinkan dalam buku PPKn masa SMA dimana terdapat kutipan-kutipan dari berbagai kitab yang menyebutkan benang merah semua agama adalah kebaikan dan cinta damai—mengapa peperangan menjadi bagian dari sejarah manusia? Terus menerus tanpa henti, hanya berganti rupa. Lewat bom atom yang bisa digerakkan dari jarak ribuan kilometer, atau perang terselubung berupa pemikiran.

Kenapa semuanya senang pada konflik? Meski ada teori yang menyebutkan manusia tak pernah bisa mengenyahkan insting hewani sepenuhnya. Kalaupun dalam tampilan luar terlihat wajar, ia membutuhkan pelampiasan. Hal inilah yang mengakibatkan game-game perang-perangan maupun duel menjadi game paling laku sepanjang massa. Demikian pula dengan adu tinju, gulat, maupun wrestling di TV. Taruhan yang memnyertai pertandingan itu, jeritan-jeritan penuh semangat seolah merayakan sisi hewaniah manusia yang tak berhasil dijinakkan.

Apakah agama itu? Ditilik dari a yang berarti tidak dan gama yang berarti kacau, seharusnya agama merupakan petunjuk jalan yang menghantarkan manusia pada keteraturan. Tapi keteraturan macam apa, hukum-hukum yang bagaimana? Dan kenapa selalu atas nama agama? Apakah hanya kedok budaya dengan tabu-nya(pake pendekatan psikologis), atau ketika seseorang telah memutuskan beragama, maka ia telah menyatukan jiwa dan raganya kepada keyakinannya itu?

Lalu kenapa masih ada korupsi, pencurian, ketimpangan, dan segala tetek bengek lainnya? Apakah semua hal itu tak ada kaitannya dengan gaya hidup? Apakah agama hanya mengurusi masalah-masalah besar seperti perdamaian di muka bumi, isu terorisme hingga memicu diadakannya dialog interfaith yang kedua? Semuanya tampak non sense. Saat membicarakan masalah-masalah besar, semua orang tampak peduli dan alim-alim, tapi begitu dihadapkan dengan kehidupan sehari-hari tak tampak jejak agama. Agama lenyap dengan segala kemegahannya. Timpang, tak utuh, cacat.

Apa yang salah? Semua pemeluk agama pasti akan membela agamanya mati-matian, hingga titik darah penghabisan kalau perlu. Agama menjadi sumber kebenaran dan juga sumber harapan. Karena itu pula psikologi materialisme menuduh agama hanyalah bentuk pelarian manusia akan sosok ‘ayah-ibu.’ Atau mengutip kata-kata Marx yang terkenal: agama adalah candu. Meski kalau melihat dari kacamata Jung(yang terdistorsi lagi oleh kacamata yang saya gunakan), agama merupakan kebutuhan dasar manusia. Jadi ‘aku’ dalam diri tiap manusia pada dasarnya bisa membantu alam sadar manusia untuk mengenali eksistensinya(lagi baca buku Zen & Psikoanalisis, tapi logikanya masih belepotan didalam kepala).

Dengan begitu agama yang kalau diartikan secara umum merupakan keyakinan seseorang yang berasal dari kitab suci(dalam pelajaran-pelajaran zaman baheula, agama dibedakan dengan kepercayaan, yang sumbernya tidak berasal dari kitab suci) merupakan jalan hidup, way of life seseorang. Didalamnya terdapat masalah-masalah profan, transenden, hingga yang skala mikro. Hua..ah alur berpikirnya kacau banget.

Agama mengantarkan seseorang pada keselamatan(p => q)
Seseorang tidak selamat (~q)
Kesimpulannya: tidak beragama(~p)
(ket: p => q ekivalen dengan ~q => ~p)

Nah, kalau sekarang kondisi yang kita hadapi kacau balau, kemungkinannya ada dua. Saya sebagai pengamat yang bermaksud objektif tapi ngga mungkin(saya kontra dengan pemisahan objektivitas dan afek versi Descartes), yang salah dalam memberikan penilaian(saya melihatnya sebagai kekacauan, padahal kondisi sebenarnya baik-baik saja) atau kondisi sekarang adalah kondisi tidak beragama(meski kadarnya mungkin bisa berbeda-beda bagi tiap orang)?

Saya cenderung pada pilihan kedua. Tapi lagi-lagi pilihan saya ini dipengaruhi asumsi awal bahwa kondisi yang saya lihat adalah benar. Sama ketika teman saya marah-marah pada diskusi dengan sebuah golongan. “Masa Yut, mereka bilang kaya gini: Semua manusia pasti pernah berbuat salah, Nabi adalah seorang manusia, kesimpulannya: Nabi pasti pernah berbuat salah.” Terlepas dari perdebatan yang panjang lebar mengenai kema’suman seorang Nabi, premis diatas juga tak lepas dari asumsi dasar: semua manusia pasti pernah berbuat salah. Padahal pernyataan itu harus dibuktikan terlebih dahulu dengan cara mengambil manusia sebarang, kemudian menggunakan metode induksi. Tentu saja hal itu sangat rumit. Sebaliknya untuk membuktikan pernyataan tersebut salah cukup mengambil satu contoh penyangkal. Membuktikan suatu pernyataan benar jauh lebih sulit dibandingkan membuktikannya salah. (Udah, ah, keterangan lebih lanjut mending ikut kuliah anril aja).

Intinya, manusia itu sebenarnya subjektif(huehehe... jadi ngikutin Wittgenstein dan Kiekergard deh), jadi untuk bertahan di dunia yang fana ini kita harus menemukan eksistensi dalam diri masing-masing. Seperti peran analisis dalam psikoanalisis dan master dalam Zen, manusia harus berhasil mendamaikan alam bawah sadarnya dengan sadar, atau dalam bahasa Zen menembus batasan ‘aku’ dalam dirinya, jalan dari perbudakan menuju pembebasan diri. Kalau psikoanalisis melakukannya dengan sosok analisis, maka Zen menggunakan metode meditasi, koan dll. Saya lebih cenderung pada cara Zen, yang sejalan dengan apa yang saya yakini. Agama yang dalam hal ini didefinisikan bersumber pada sebuah kitab, merupakan petunjuk jalan bagi manusia untuk menemukan eksistensi dirinya sebagai seorang abd’ dan menuju Yang Esa.

kehidupan

Cinta...
Sirna...
Satu...
Padu...

Adakah seseorang yang menolak disayang, dicintai, diinginkan? Hidup dalam kesendirian, kesepian, karena telah memiliki segala. Berkawan materi, gunjingan-gunjingan, dan bedak berlapis-lapis karena tengah berjerawat. Dengan sepatu kulit impor yang harganya dapat menghidupi sebuah keluarga sederhana selama satu bulan. Mobil mewah berjajar di garasi, dengan orang-orang yang siap membantu membukakan pintu hingga semir sepatu. Dalam salah satu adegan, sang ibu dengan kalung-kalung bertatahkan berlian, mencium anaknya. Dinasehatinya anak itu panjang lebar. Namun matanya kosong, sang anak pun mendengarkan sambil menambahkan sepotong ya pada bagian pertanyaan.

Tak jauh dari rumah megah itu, ada seorang ayah yang baru saja di PHK. Sang istri yang menjadi babu cuci tak dapat membantu banyak. Padahal sebentar lagi anak mereka akan kembali bersekolah setelah libur kenaikan kelas. Itu artinya ia harus siap mengeluarkan uang lebih. Dengan mata tak berdaya dipandanginya angka satu di rapot anaknya. Sudah berulang kali tertoreh angka satu di peringkat kelas. Angka yang tak hanya membuat bangga, namun lebih menorehkan luka. Perasaan terkoyak karena tak dapat berbuat banyak karena masalah biaya.

Sang anak memang tak pernah berharap banyak. Ia selalu berkata, ia selalu siap kalau harus berhenti sekolah. Tangan-tangan mungil anak usia empat SD itu bahkan sudah tahu bagaimana mencari uang dengan mengambil kue-kue tetangganya untuk dititipkan di koperasi sekolah. Tangan-tangan yang juga mengangkat tangannya kepada Sang Maha Kuasa dan senantiasa berdoa untuk dapat menjadi orang besar. Pinta yang diucapkan setiap kali, layaknya tasbih. Hingga meski tak pernah terkatakan, sang ayah tahu mimpi-mimpi anaknya.

Di tengah kegalauan, bimbang dan putus asa sang ayah menjadi gelap mata. Dilihatnya anak yang tak pernah merasakan tanah lumpur. Sepatu olahraga yang tampak selalu baru, tas berwarna, dan mobil lengkap sopir yang mengantarkannya kemana-mana. Dicarinya akal agar dapat merampas sesuatu dari anak itu, agar tak hanya anak orang kaya yang dapat merasakan bahagia. Ia ingin anaknya dapat merasakan hak yang sama, barang-barang keluaran pabrik, mengkilap dan harum. Pikiran-pikiran itu kian sering menggodanya, terutama semenjak ia tak lagi dapat membantu istrinya.

Di tengah rasa frustasi, ia mulai suka melayang. Alkohol menjadi salah satu kawan terbaiknya. Memberikan detik-detik paling bebas dalam hidupnya. Ia merasa begitu merdeka untuk melayangkan tangannya ke wajah sang istri yang kini lebih sering menangis. “Ah, berisik,” ketika sang istri menolak memberikannya uang sambil memberikan sebuah pukulan yang menorehkan lebam di pipi.

Kejadian itu berulang. Dan kali ini sang suami mulai mencari cara lain untuk memperoleh uang. Ia berniat untuk melaksanakan rencananya terhadap keluarga kaya itu. Ia akan menculik anak yang baginya tampak terlalu bahagia itu. Kenapa ada orang yang berhak menerima semua itu sedangkan dirinya harus terperangkap dalam kemiskinan, ketidakberdayaan, dan dilecehkan oleh istrinya sendiri. Kemarahan itu begitu menggebu-gebu. Menghentak, membuncah, hingga nyaris tak tertahankan. Dengan sisa-sisa akalnya, ia menyusun sebuah rencana penculikan.

Dan terjadilah. Ketika anak tersebut sedang menunggu jemputan di sekolahnya, laki-laki yang gelap mata itu menculik anak itu. Rencananya sederhana, untuk meminta uang tebusan, sama seperti yang sering dilihatnya di sinetron. Bukankah itu artinya keadilan, ketika setiap orang bisa merasakan hal yang sama, dan bagi dirinya, inilah saatnya ia bisa memperoleh uang banyak, dan membuat orang-orang yang tampak terlalu sempurna itu untuk menderita.

Di sebuah tempat yang sepi ia mengikat mulut anak itu. Tapi setetes air membuatnya terkejut. Mata anak itu mengeluarkan air dan menyiratkan ketakutan. Laki-laki itu sekilas teringat anaknya di rumah. Dan yang membuatnya lebih heran lagi, anak itu tidak menjerit-jerit mencari ibunya, melainkan hanya menangis tergugu dan pasrah. Kebeningan mata anak itu membuatnya takut, perasaan yang sudah lama tak dirasakannya. “Ternyata orang kaya bisa menangis juga,” pikirnya. Ketika ia memeluk anak itu, tangisan itu malah terdengar lebih keras. “Su...su..sudah la..lama, ibu saya tak me..melakukannya,” ucap sang anak dengan tergugu.

Kata-kata itu langsung menghancurkan pertahanan penculik. Dengan airmata yang membuat pandangannya kabur, ia melepaskan ikatan di tangan anak itu dan menyuruhnya pergi. Sementara sang ibu yang telah diberitahu oleh sopir bahwa anaknya tak ada di sekolah mulai merasa cemas. Pikiran-pikiran mengenai model baju terbaru musim ini yang tadi diperbincangkan seru di arisan, sirna. Perbincangan anak saya ikut les ini-itu, menang lomba antah berantah, hingga piala-piala kecil yang menghiasi salah satu pojok ruang tamunya terasa mengejek. Dengan perasaan galau dibantingnya salah satu piala milik anaknya.

Piala itu diperoleh anaknya ketika harus mengikuti lomba aritmatik. Di bagian bawahnya tertulis juara harapan I. Saat hendak mengikuti lomba itu, sang anak menolak ikut karena merasa tak enak badan. Tapi saat itu ia memaksa anaknya untuk tetap ikut. Minggu lalu, teman arisannya bercerita mengenai keberhasilan anaknya menang lomba. Ia tak mau kalah, ia merasa anaknya adalah yang terbaik dan tak terkalahkan. Karena itu ketika anaknya hanya memperoleh juara harapan, ia merasa sangat marah.

Potongan-potongan itu menyerangnya, menyerbunya, membuat kilatan-kilatan peristiwa. Tiba-tiba telepon rumah berbunyi. “Ma, ini ade. Ade ada ada di dekat SD Harapan Bangsa. Tolong jemput ade ya, Ma.” Dengan langkah tergopoh, ibu itu langsung meminta sopirnya untuk ke sekolah. Baru kali itu ia tidak memikirkan tatanan rambutnya, atau parfum apa yang harus dikenakannya. Ia merasa menjadi orang yang begitu jahat dan egois hingga nyaris kehilangan putranya sendiri. Kehilangan yang sebenarnya sudah terjadi bebapa tahun semenjak ia mengambil jarak, dan menutup hatinya.

Dari kejauhan dilihatnya putra semata wayangnya itu. Dengan baju agak berantakan dan wajah sedikit pucat. “Sudah berapa lama saya tak melihatnya tertawa lepas,” pikir sang ibu sedih. Ketika mobil berhenti, sang ibu langsung turun sambil memeluk anaknya yang baru kelas 3 SD itu. “Maafkan, ibu nak. Ibu minta maaf. Apa kamu ngga apa-apa Yang?” Sang anak hanya menguatkan dekapan pada ibunya.

Sementara laki-laki yang gelap mata, mulai berusaha bangkit. Dipandanginya lautan sampah yang ada di matanya. Perlahan ia mulai mengumpulkan botol-botol bekas. Ia bertekad, tak akan pulang ke rumah dengan kosong. Ia tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. Ia rindu tatapan anak dan istri yang begitu menyayanginya. Ia ingin menjadi bagian dari kehidupan itu kembali.
Untuk teman-temanku di Siaware tujuh: Saat kehidupanku beririsan denganmu, kau telah menjadi bagian dari diriku. Sang Sutradara telah menggariskan kisah ini untukku, untuk membuatku kuat, dan menyadari bahwa ternyata kaupun tak sempurna. Aku melihat diriku dalam dirimu, dan itu membuatku merasa kita adalah satu.

Selasa, 04 Agustus 2009

Pretend

"Pretend" when you say 'i don't love you "Anda tidak melihat sakit meninggalkan tetapi Anda selalu datang kembali berjalan dan akhirnya bisa bernafas i hate bagaimana Anda bisa melakukan ini, namun Anda tetap perhatian saya tahu bahwa hidup i Anda hanya menggunakan tetapi saya tanpa anda, bagaimana saya bisa bertahan? you're killing me dengan ketiadaan tetapi Anda tidak banyak di semua kejahilan pushes me down tetapi jatuh sakit menikmati i know im semua untuk menunjukkan but im addicted ke rasa sakit seperti ini tidak terkunci dalam suaka dan saya pil untuk menjaga me sane i dont know you love me tapi sekarang sakit hanya pretend im yang tidak begitu rentan dan tidak memerlukan jerumatan

20 february,,,, my birthday

Hari ini hari apa yach.....cwek aja lupa kale yach....huh

jengkel jadi na....aq aj inget.tp gpp lah,biasa sich cwek tuh mst pelupa atow sengaja mel;upa yach?hikz


21 february.....ksh slmt aj bwt aq da my honey.

tau lah lupa ya sudah.mow di apain lg.

org ultahku kmrn aj,lupa kq.


yach sabar2 punya cwek pelupa.apa2 kita yg hrs ngingetin.untung gak lp ma wjh aq na.hehehe

klo yg ntu lp,wedew parah bgt dech...!!!


syank,syank ntu bnr2 lp ato emg sengaja melupain sich.......huhuhu


love you my love,doamu sll aq aq harapkan.



hari ini,esok atow kpn pun ku kan cb berthn utkmu.

krn dirimu yg membuat aq berarti..

do'a wat all

Ya Allah,,,,,,,,,,
Aku menyayangi dia lbh dr segalanya
Jika dia jodohku,dia baik utk agamaku
Untuk keluargaku,serta dunia dan akhiratku
Aku mohon padaMU Ya Allah,,,,,,,,
Mudahkanlah jalan kami
Dekatkanlah hati kami,,,,
Berkati dan restuilah cinta kami
Kalaupun dia bkn Engkau takdirkan untuk ku
Berikan hambamu ini kekuatan dan ketabahan dlm menerima ketentuanMU
Ya Allah,,,,,,,,,,
HambaMU ini lemah tak berdaya
Aq merajuk kepadaMU Ya Allah,,,,,,
Berikan jalan yang sebaik-baiknya jalan untuk kami
Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Amien2............,Ya Robbal'alamin